Myanmar Berdarah : Puluhan Demonstran terbunuh

Para pengunjuk rasa berlindung ketika petugas polisi anti huru hara menembakkan tabung gas air mata selama unjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 27 Februari 2021. Polisi Myanmar menembaki pengunjuk rasa pada hari Minggu di hari paling berdarah dalam berminggu-minggu demonstrasi menentang kudeta militer. [REUTERS / Stringer]


Unjuk rasa menentang kudeta militer di Myanmar kembali memakan korban. Hingga pukul 16.00 WIB sembilan demonstran dilaporkan tewas.


Mengutip Reuters, Rabu, 3 Maret 2021, pasukan keamanan Myanmar melepaskan tembakan peluru karet dan gas air mata di beberapa tempat untuk membubarkan protes kudeta militer, termasuk kota-kota utama Yangon dan Mandalay.

Dua orang tewas dalam bentrokan di kota terbesar kedua negara itu, Mandalay, kata seorang saksi mata dan laporan media, dan satu orang tewas ketika polisi melepaskan tembakan di kota utama Yangon, kata seorang saksi mata di sana.

Monywa Gazette melaporkan lima orang tewas di pusat kota itu dalam tembakan polisi. Satu orang ditembak dan tewas di pusat kota Myingyan, kata aktivis mahasiswa Moe Myint Hein, 25.


“Mereka menembaki kami dengan peluru tajam. Satu orang terbunuh, dia masih muda, seorang remaja laki-laki, ditembak di kepala, '' kata Moe Myint Hein, yang terluka di kaki, kepada Reuters melalui telepon.

Seorang juru bicara dewan militer tidak menjawab panggilan telepon untuk dimintai konfirmasi.

Setidaknya 30 orang telah tewas sejak kudeta pada 1 Februari dan memicu protes nasional dan kekecewaan internasional.

Pasukan keamanan juga menahan sekitar 300 pengunjuk rasa saat mereka membubarkan protes di Yangon, kantor berita Myanmar Now melaporkan. Seorang aktivis mengatakan beberapa pemimpin protes termasuk di antara mereka yang dibawa pergi.

0 komentar:

Post a Comment