CT Scan Dapat Mengakibatkan Kematian

Restia Juwita

Radiasi dari CT scan yang dilakukan pada 2007 akan menyebabkan 29.000 kanker dan membunuh sekitar 15.000 orang Amerika, kata para peneliti, seperti dilansir Reuters, Senin (14/12).

Temuan yang dipublikasikan dalam Archives of Internal Medicine, menambah bukti yang semakin banyak bahwa orang Amerika terlalu sering terkena sinar radiasi dari tes diagnostik, terutama dari jenis khusus sinar-X yang disebut computed tomography, atau lebih dikenal dengan sebutan CT scan.

Menurut Dr. Rita Redberg, editor dari Archives of Internal Medicine, CT scan memberikan radiasi dan kanker dalam jumlah yang besar. Diperkirakan, hanya melalui CT scan yang dilakukan dalam setahun, yaitu pada 2007, mengakibatkan 15.000 orang mati. CT scan melibatkan dosis radiasi lebih tinggi daripada sinar-X konvensional. CT scan pada dada pasien memperlihatkan dosis radiasi lebih dari 100 kali daripada sinar-X di dada.

Sekitar 70 juta CT scan yang dilakukan pada 2007 di Amerika, menyebabkan 29.000 orang akan terkena kanker. Sepertiga dari kanker diproyeksikan akan terjadi pada orang berusia 35-54, dua per tiga akan terjadi pada wanita dan 15 persen akan muncul dari scanning yang dilakukan pada anak-anak dan remaja. (YUS)

www.Liputan6.com

Cek Malaria Anda dengan Mengunyah Permen Karet

Restia Juwita

Sebuah temuan baru, yang merupakan hasil riset, dilansir DiscoveryNews, baru-baru ini. Mengunyah permen karet bisa mendeteksi, apakah Anda terinfeksi malaria atau bukan. Riset ini dilakukan Andrew Fung dan koleganya di University of California, yang menggunakan hibah dari Bill dan Melinda Gates Foundation. Mereka menggarap proyek perkembangan Maliva, yaitu proyek mendeteksi malaria melalui permen karet.

Riset tersebut menemukan, seseorang yang terinfeksi malaria ketika nyamuk Anopheles betina menggigit, akan menunjukkan berbagai gejala. Di antaranya, demam panas, menggigil, muntah, kekurangan energi, bahkan kejang-kejang setelah enam sampai 14 hari terkena gigitan. Untuk mendiagnosa penyakit yang diderita, para ilmuwan mengambil sampel darah dan memeriksa melalui mikroskop, mencari yang lebih gelap dari normal sel darah merah yang terinfeksi oleh parasit malaria.

Untuk beberapa daerah yang masih belum memiliki fasilitas mikroskop atau staf ahli yang berpengalaman, para dokter menggunakan tes antigen. Dengan menggunakan tes ini, setetes darah bisa mendeteksi keberadaan beberapa molekul yang dibuat parasit malaria yang kemudian dilepaskan ke dalam darah manusia. Sedangkan daerah yang tidak bisa membayar tes antigen, atau dimana setetes darah adalah hal yang tabu, dapat menggunakan metode baru untuk mendeteksi malaria. Tes tersebut adalah Maliva, yakni mendeteksi melalui air liur, yang penelitian yang dirilis tahun lalu.

Ide awal untuk menggunakan permen karet sebagai pendeteksi malaria adalah untuk memasukkan nanopartikel magnetik ke dalam permen karet. Ketika seseorang mengunyah permen karet, air liur mengandung molekul yang diproduksi parasit malaria, masuk ke dalam mulut. Nanopartikel magnetik berujung dengan antibodi yang menempel ke molekul. Setelah beberapa menit, permen karet akan dibuang dan ditempatkan pada strip kertas. Nanopartikel yang terikat pada protein malaria, akan menujukkan garis tipis. Apabila tidak ada garis, berarti tidak ada malaria.

Fung dan koleganya berharap akan memiliki prototipe kerja Maliva tahun depan. Mereka berencana untuk memulai uji lapangan dengan permen karet sesudahnya. Menurut David Wong, seorang dokter di UCLA, proyek ini masih tahap awal, tapi merupakan ide yang menarik.

Menggunakan air liur, bukan jarum suntik yang menyakitkan, akan menjadi trend dalam beberapa tahun ke depan, termasuk untuk mendeteksi penyakit lain selain malaria. "Ini hanyalah puncak gunung es," kata Wong. "Tidak ada alasan mengapa metode ini tidak dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi lain juga." (RST/ETA)

Liputan6.com

Puluhan Teknologi Baru ala ITS

17/12/2009 14:09
Ahmad Salman Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya di Jawa Timur, memamerkan 22 teknologi terbaru bidang kelautan. Teknologi baru ini ditampilkan di sela Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan (SENTA). Seperti diwartakan ANTARA, keunggulan teknologi dari ITS ini adalah ramah lingkungan. Di antaranya, alat pemecah ombak berbahan dasar polyethelene, ramah lingkungan, tidak mengalami korosi, dan tahan lama.

Menurut ketua panitia acara, Suntoyo, pameran SENTA diadakan antara lain untuk saling tukar informasi, pengalaman, dan pemikiran. Termasuk memperkuat jaringan antarlembaga, institusi, dan pemerintahan dalam bidang teknologi kelautan. Sedangkan Direktur PT Indopipe Hery Supriadi berharap, produk berbahan dasar plastik yang ramah lingkungan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Beberapa bentuk kegiatan untuk perlindungan sumber daya alam juga ikut dipamerkan. Seperti dari stan Balai Riset dan Observasi Kelautan (BROK) yang berada di bawah Departemen Perikanan dan Kelautan, yang memamerkan perlindungan pantai, turtle satellite tagging, mangrove field station, dan water quality laboratory.

Di tempat lain, dua buah kapal patroli buatan mahasiswa dan alumni ITS berhasil memenangkan tender dan akan dibeli Dinas Kelautan dan Perikanan dan Departemen Perhubungan. Menurut Gaguk Suhardjito, dosen Desain Kapal Politeknik Perkapalan, dua kapal patroli itu merupakan hasil kerja sama ITS dengan perusahaan pembuat kapal, PT Fiber Glass. "Kebetulan yang punya perusahaan adalah alumni ITS juga. Jadi sekaligus memberikan praktik lapangan kepada siswa kami setelah beberapa saat lalu mendapatkan teorinya di kelas," kata Gaguk.

Dalam proses pembuatan kapal, PT Fiber Glass menyediakan fasilitas sumber daya manusia dan peralatan, dibantu mahasiswa politeknik perkapalan ITS. Dua kapal patroli ini merupakan produk ketiga, setelah sebelumnya ITS juga membuat Kapal Merdeka dan Kapal Wisata untuk Telaga Ngebel. Kapal-kapal itu telah dikomersialkan pada 2005 silam. Kini kapal patroli tadi akan dimanfaatkan di Perairan Kalabahi dan Perairan Merauke. "Dua kapal dibeli Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Perhubungan Merauke," jelas Gaguk.(ETA)

www.Liputan6.com

Ditemukan, Planet Baru dengan Samudera

22/12/2009 07:55

Liputan6.com, Massachusetts: Para peneliti luar angkasa menemukan sebuah planet yang nyaris seperti Bumi: memiliki kandungan air. Planet yang mengorbiti satu bintang dengan jarak 40 tahun cahaya atau nyaris setara dengan 360 biliun kilometer tersebut diyakini sebagai planet pertama yang mirip Bumi dan memiliki atmosfer. Seperti dikutip jurnal Nature, menjelang akhir Desember ini, para astronom menamai planet tersebut GJ 1214b.

Planet itu berukuran hanya sekitar 2,7 kali ukuran Bumi dengan massa kira-kira 6,5 kali berat Bumi. Sesuai berat jenisnya, para ilmuwan menduga Planet GJ 1214b mengandung 3/4 air dengan inti padat dari besi dan nikel. Sementara atmosfernya terdiri dari hidrogen dan helium. "Di planet ini, tak ada satu pun benua yang mengambang di atas atau menyeruak dari air," kata David Charbonneau, Kepala Peneliti Pusat Astrofisika Smithsonian, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

Data menyebutkan pula bahwa GJ 1214b lebih panas ketimbang Bumi. Sedangkan atmosfernya, sepuluh kali lebih tebal ketimbang di Bumi. Kondisi itu berpeluang besar mempersulit apapun untuk hidup. Tekanan atmosfer terhadap permukaan planet besar sekali dan cahaya yang sangat sedikit sulit menembus kabut demi mencapai samudera planet tersebut.(EPN)

http://tekno.liputan6.com/berita/200912/255583/Ditemukan.Planet.Baru.dengan.Samudera

Bangun website anda sekarang