Kiamat 2012?,Bukan. Melainkan Banjir Sampah Ponsel


Perusahaan konsultan Delloitte memperkirakan pada tahun 2012 mendatang sampah ponsel di bumi akan mencapai 8000 ton. Ini merupakan suatu bentuk ancaman bagi lingkungan. Tanpa adanya program re-use dan anjuran penggunaan menangani barang-barang elektronik yang selanjutnya akan menjadi sampah elektronik, sekiranya 8000 ton komponen ponsel bekas bakal mencemari tanah.

Ditambah lagi setiap tahunnya perkembangan ponsel terus meningkat seiring pergantian teknologi dan desain ponsel. Tentunya ini akan mendorong pengguna ponsel untuk mengganti ponsel lamanya dengan yang baru.

Oleh sebab itu, Negara-negara berkembang seperti India (dan juga Indonesia, red) harus mengantisipasi masalah pencemaran sampah ponsel. Pemerintahnya pun harus membuat petunjuk dan aturan yang jelas mengenai masalah pencemaran.


http://blog-artikel-menarik.blogspot.com/2009/11/tahun-2012-bukan-kiamat-tapi-banjir.html

Memori Otak Rusak Tanpa Disadari


Lupa menaruh sesuatu atau bingung mau mengerjakan apa adalah ciri berkurangnya kemampuan otak mengolah memori. Peneliti kini semakin yakin faktor utama penyebab kerusakan otak itu adalah stres yang tanpa disadari telah merusak otak.

Hampir sebagian pasien yang datang ke dokter dalam keadaan demikian terdeteksi stres, tapi mereka tidak sadar. Stres yang berlebihan terbukti bisa merusak kemampuan mengingat otak.

Meskipun demikian, peneliti mengatakan stres tetap diperlukan karena tanpa stres, seseorang tidak bisa merasakan apa itu bahagia. Namun beberapa studi menunjukkan bahwa stres yang berlebihan akan memicu hormon kortisol yang ternyata berpengaruh pada tes memori.

Peneliti dari University of Carolina melakukan studi dan mengatakan bahwa jika seseorang membiarkan stres dalam otaknya selama bertahun-tahun, akan mengalami pengurangan fungsi otak tanpa disadarinya. Sebanyak 100 partisipan yang mengikuti tes memori dalam studi membuktikannya.

Partisipan diberi instruksi untuk mengingat nama orang, benda dan angka oleh peneliti. Dan ternyata hasilnya, mereka yang gagal dalam tes tersebut terdeteksi mengalami stres selama bertahun-tahun. Namun beberapa responden mengaku mereka tidak merasa stres.

Kerusakan fungsi menyimpan memori dalam otak memang terjadi secara perlahan-lahan. Oleh karena itu, partisipan pun biasanya tidak tahu bahwa mereka sedang mengalami stres.

Tapi kabar baiknya, kerusakan memori pada otak tersebut bersifat reversible dan bisa diperbaiki. Caranya yaitu dengan meningkatkan stimulasi otak sekaligus menurunkan level stres.

Semakin banyak mengingat sesuatu, semakin banyak kapasitas otak untuk menyimpan informasi. Itu karena otak terdiri dari bermiliar-miliar sel saraf atau neuron. Kebanyakan dari sel ini hanya terapung apung di sekitar larutan garam di otak, menunggu untuk distimulasi sehingga bisa meneruskan atau menyimpan data.

"Sel-sel itu harus diaktifkan. Semakin banyak sel tersebut yang dihidupkan, semakin besar kemampuan otak mengolah data," ujar seorang peneliti seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (3/11/2009).

Jadi jangan ragu-ragu untuk melakukan olahraga otak. Mainkanlah sebuah permainan otak. Cobalah mengingat sepuluh jenis kartu permainan, sepuluh benda untuk belanja, atau sepuluh nama orang yang baru dikenal.

detik.com

Jadi Bos Berisiko Terkena Gangguan Kesehatan

Siapa tak ingin jadi seorang bos? Sebab, itu berarti Anda memiliki banyak uang dan tantangan kerja yang menarik. Namun, berdasarkan penelitian di Kanada, ternyata menjadi bos berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental.

Para peneliti Universitas Toronto yang meneliti 1.800 pekerja menemukan fakta, pekerjaan mempengaruhi kesehatan orang-orang di posisi atas. Sebab, mereka lebih sering mendapat konflik dari rekan kerja sehingga masalah pekerjaan pun membaur dalam kehidupan rumah tangganya.

Dengan status dan bayaran yang lebih tinggi, serta kebebasan kalangan orang yang berkuasa, tampaknya tidak mungkin berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, orang-orang yang berstatus rendah pada umumnya memiliki tingkat lebih tinggi terkena penyakit jantung dan berisiko meninggal lebih awal. Sedangkan otoritas kerja menunjukkan, tidak ada hubungan antara tingkatan para pekerja dan kesehatan.

"Individu dengan wibawa lebih tinggi cenderung terkena gejala fisik lebih sedikit, serta sedikit gejala tekanan psikologis dan amarah," ujar Scott Schieman, pakar sosiologi dalam penelitian itu kepada Reuters. "Ini bukan berarti memiliki kewenangan adalah hal yang buruk. Selain keuntungan, penting juga mengidentifikasi kerugian dan cara menanganinya."

Temuan terbaru yang dilaporkan dalam jurnal Social Science & Medicine menunjukkan, pro dan kontra pada posisi kekuasaan pada dasarnya diragukan, sebab memberikan kesan bahwa pekerjaan bos tidak memiliki dampak pada kesehatan.

Pada penelitian itu, mereka menyurvei peserta berdasarkan aspek kehidupan pekerjaan dan kesejahteraan mereka. Pekerjaan sebagai bos diukur berdasarkan apakah seseorang mengatur karyawan lainnya dan memiliki kekuasaan atas perekrutan, serta pemecatan dan pembayaran gaji karyawannya.

Keluhan kesehatan fisik, di antaranya masalah-masalah seperti sakit kepala, sakit badan, mulas, dan kelelahan. Sedangkan keluhan psikologis, di antaranya masalah susah tidur, sulit berkonsentrasi, dan perasaan sedih, juga kecemasan.

Schieman mengatakan, konflik dengan rekan kerja atau pekerjaan yang mengganggu kehidupan rumah jauh berat dibandingkan tekanan fisik dan kesejahteraan mental yang menciptakan stress kronis. "Ketika penelitian terfokus pada dampak negatif kesehatan bagi pekerja berstatus rendah, hal itu juga sangat penting untuk mengenali stress bagi pekerja berstatus tinggi," tambah Schieman.(SHA)

Bangun website anda sekarang