Filosofi Hujan

HUJAN, bagi sebagian orang adalah peristiwa alam yang ditunggu-tunggu. Airnya yang berlimpah, dinginnya yang menyejukkan, dan kesegarannya yang menyenangkan, membawa kita pada suasana yang benar-benar berbeda. Berbeda saat kita terasa panas dan merindukan kesejukkan yang menyegarkan.

Saat semua merasakan kesegaran, hujan kadang-kadang juga bisa membawa kerepotan. Di Jakarta, hujan yang "hanya" sekian jam, bisa membuat jutaan orang mengumpat, lantaran jalan-jalan protokol tiba-tiba banyak tergenang air dan menimbulkan macet yang luarbiasa. Apalagi jika hujan kemudian bermurah hati menumpahkan airnya selama beberapa jam, bisa-bisa Jakarta merengut karena banjir akan datang. Repot dan menyebalkan.

Tapi sadarkah kita, hujan punya pesan yang tidak pernah kita perhatikan? Hujan selalu berpesan, apakah kita sudah mencintai alam seperti kita mencintai diri kita sendiri? Saat banjir dan macet, seringkali kita manyalahkan hujan itu sendiri, padahal jujur saja, apa yang salah dengan hujan? Kita yang membuat alam tidak seimbang lagi. Kita yang membuat alam "marah" dengan segala tetek bengek dalih pembangunan.

Sadarkah kita, alam sering menyentil kita dengan cara-cara yang sederhana. Tetesan air hujan, sebenarnya sapaan untuk kita tetap mencintai alam dengan wajar. Hujan bukanlah bencana yang membuat kita harus meradang dan mencaci. Hujan mengajarkan kita untuk mencintai alam.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

adsensecamp